Rabu, 27 Juli 2011

TERCELANYA SIFAT BAKHIL

Adakah manusia yang senang melihat kebakhilan orang lain? Tentunya tidak, hatta dia sendiri adalah orang yang bakhil juga. Itulah fitrah manusia, menyukai hal-hal yang baik dan membenci yang buruk. Barangsiapa yang bersikap sebaliknya, berarti dia sudah keluar dari fitrahnya.

Orang bakhil bisa kita temui di mana saja; di masyarakat, di antara teman-teman kita, di dalam keluarga kita, bahkan mungkin ada didalam diri kita sendiri. Ada orang yang bakhil kepada tetangganya, suami kepada istrinya, seseorang kepada temannya, dan sebagainya. Terhadap siapapun kebakhilan itu terjadi, tak ada orang yang menyukainya.

Tahukah kita betapa bahaya dan tercelanya sifat bakhil dalam ajaran agama Islam? Tentang sifat ini Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:"Kikir dan iman sama sekali tidak berhimpun di dalam hati seorang hamba." (diriwayatkan At Tirmidzi, Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqy dan Al Baghowy). Mengerikan, bukan? Bahkan beliau berlindung kepada Alloh dari sifat tersebut, beliau berdoa:
Alloohumma innii a'uudzubika minal jubni wal bukhli
"Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari lemah hati dan bakhil." (HR Al Bukhory dan Muslim).

Bahkan Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam menyebutnya sebagai penyakit yang parah. Jabir rodhiyallohu 'anhu meriwayatkan, Nabi shollallohu 'alaihi wasallam pernah bertanya kepada Banu Salamah,"Siapakah pemimpin kalian?"
Mereka menjawab,"Jadd bin Qois. Hanya saja kami menganggapnya orang yang bakhil."
Beliau bersabda,"Lalu apakah penyakit yang lebih parah dari bakhil? Pemimpin kalian adalah Bisyr bin Al Barro' bin Ma'rur." (disebutkan Al Bukhory di dalam Al Adabul Mufrod).

Bakhil membuat orang lain menderita, bakhil menimbulkan kebencian di antara sesama, bakhil menyebabkan kedengkian orang lain, bakhil membuat kesenjangan sosial semakin tebal, bahkan bakhil dapat memutuskan tali ukhuwah dan silaturohim. Tak jarang pula bakhil ternyata dapat memicu terjadinya perceraian suami istri. Banyak sekali bahaya bakhil pada kehidupan manusia, sangat sesuai dengan sabda Nabi shollallohu 'alaihi wasallam. Dalam sebuah hadis Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:"Tiga perkara yang merusak, yaitu: kikir yang dituruti, nafsu yang diikuti dan keta'ajuban seseorang terhadap diri sendiri." (diriwayatkan Al Bazzar dan Abu Nu'aim).

Al Khoththoby berkata,"Kikir yang membuat seseorang tidak mau memberi, lebih parah daripada bakhil."

Ibnu Qudamah mengatakan, tingkatan bakhil yang paling parah ialah bakhil terhadap dirinya sendiri sekalipun dia membutuhkannya. Berapa banyak orang bakhil yang tidak mau mengeluarkan hartanya, dia sakit tetapi tidak mau berobat, dia menginginkan sesuatu tapi tidak menurutinya, hanya karena bakhil.

Pernah bukan kita mendapati orang yang demikian? Dia mengeluh bahwa dia tidak punya baju tetapi dia tidak mau membeli, padahal uang tabungannya di bank banyak benar. Dia bilang ingin makan enak tetapi dia tidak mau keluar uang untuk memperolehnya, padahal rumahnya mewah. Dan contoh-contoh lain yang ada di sekitar kita. Dan biasanya orang yang bakhil terhadap diri sendiri dia akan lebih bakhil terhadap orang lain. Tapi ingat, hal ini sangat berbeda dengan orang yang mengabaikan kepentingan dirinya padahal dia membutuhkan. Yang terakhir saya sebutkan ini adalah hal yang terpuji, sebagaimana firman Alloh dalam Alquran surat Al Hasyr ayat 9:"Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan."

Di dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidin disebutkan bahwa Al Farisy berkata:"Jika orang dermawan meninggal dunia, maka bumi para malaikat penjaganya berkata,'Ya Robbi, lepaskanlah urusan dunia dari hambaMu karena kedermawanannya.' Jika orang bakhil meninggal dunia, maka bumi berkata,'Ya Robbi, halangilah orang ini dari surga, sebagaimana hambaMu ini menghalangi apa yang ada di tangannya dari keduniaan.'

Berikut adalah beberapa kisah orang bakhil yang ditulis Ibnu Qudamah dalam kitabnya:

- Diriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu, dia berkata:"Al Hajib adalah seorang laki-laki yang cukup terpandang di kalangan bangsa Arab, tapi dia bakhil. Dia tidak mau menyalakan tungku api pada malam hari, karena takut ada orang lain yang melihat bias sinarnya lalu mengambil manfaat dari apinya. Jika dia perlu menyalakan, maka dia pun menyalakannya. Kemudian jika dia melihat seseorang yang ingin mencari api, maka dia buru-buru memadamkannya."

- Dikisahkan bahwa Marwan bin Abu Hafshoh termasuk orang yang sangat bakhil. Suatu kali dia pergi menuju ke tempat tinggal di Al Mahdy. Istrinya berkata:"Aku berharap sepulangmu dari sana engkau akan membawa hadiah." Marwan menyahut:"Kalau aku diberi 100 ribu dirham, aku akan memberimu 1 dirham." Karena ternyata dia hanya mendapatkan hadiah 60 ribu dirham, maka istrinya hanya diberi 4 dawaniq (dua pertiga dirham).

Mudah-mudahan Alloh melindungi kita dari sifat bakhil dan kikir, serta menjauhkan kita dari orang-orang yang demikian. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

*Memperbaiki diri adalah alat yang ampuh untuk memperbaiki orang lain*
Silakan berkomentar dengan sopan dan tidak bertentangan dengan syari'at.
Terima kasih.